BLOGGER TEMPLATES AND Gaia Layouts »

Jumat, 20 November 2009

Mungkin dalam berorganisasi kita perlu belajar pada seorang petani. Petani tidak pernah meninggalkan tanahnya ketika ia belum memastikan tanah itu benar-benar tak dapat ditanami. Bila tanahnya kurang gembur, petani pun berusaha memberinya pupuk. Bila tanahnya gersang, petani juga berusaha agar tanahnya dialiri air. Entah dengan membuat saluan irigasi atau berharap datangnya hujan. Bahkan tak hanya itu saja usahanya, cangkul pun diayunkan sepanjang siang. Kerbau dan traktor pun dikerahkan untuk membuat tanah itu benar-benar dapat ditanami.

Itulah gambaran petani akan kesabarannya pada sebuah petak tanah. Ia begitu menghargai unsur alam itu sehingga ia percaya bahwa tanah itu mampu ia olah dan menghasilkan berbagai tanaman. Dari rempah-rempah hingga kebutuhan pokok manusia. Barulah hingga detik waktu, ia menyerah pada tanah itu karena sudah tak mungkin dapat diolah dengan baik. Ataupun karena paksaan keadaan yang membuat tanah itu akhirnya terjual pada pengusaha perumahan.

Akankah kita sesabar petani dalam berorganisasi? Yang bersedia memberi apa yang kita punya untuk mengolahnya hingga ia menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan banyak orang? Yang kita tidak meninggalkannya begitu saja ketika organisasi itu kurang gembur dan subur?

Baiklah. Setiap orang pasti memiliki harapan ketika memasuki suatu organisasi untuk pertama kalinya. Telebih bila organisasi itu sudah besar dan terkenal. Mungkin berharap agar menjadi panitia di berbagai event organisasi sehingga CV bertambah hingga berderet panjang. Mungkin berharap agar mempunyai skill-skill tertentu dengan mengikuti kegiatan di organisasi itu. Berharap mampu menghasilkan mahakarya seperti buku atau lukisan dengan menjadi anggota organisasi tersebut. Bahkan berharap agar mendapatkan cinta untuk dibawa mengayuh masa depan dari organisasi, istilah kerennya mungkin Cinta Lokasi (Cinlok). Itu sah-sah saja.

Saya sering sekali menemui orang yang kecewa ketika sudah masuk ke dalam organisasi. Kecewa karena ternyata organisasi yang dimasukinya tidak seperti bayangannya, harapannya. Kecewa karena ternyata organisasi itu tidak sekemilau namanya ketika orang awam mendengarnya untuk pertama kali. Kecewa karena bertemu orang-orang yang tidak sesuai. Kecewa karena kita tidak bisa mengikuti alur kerja atau kegiatan dalam organisasi yang mungkin begitu cepat, keras ataupun malah sebaliknya.

Kecewa itu wajar bukan? Jelas wajar sekali. Namun mengapa seseorang itu kecewa terhadap organisasi. Bila alasan diatas itu memang dapat dibuktikan secara ilmiah, asumsi saya ada dua hal yang mendasar yang memicu kekecewaan itu. Kecewa yang bersumber pada dirinya sendiri yang merasa tidak mampu untuk mengikuti gerak langkah organisasi. Satunya lagi adalah kecewa yang bersumber dari organisasi-nya sendiri.

Lalu apa yang harus dipermasalahkan dengan adanya kekecewaan ini? Ada dua asumsi pula dengan adanya sikap seperti ini. Pertama, tentunya kekecewaan seseorang terhadap organisasi dapat menghambat individu itu sendiri untuk berkembang. Dengan kecewa, lalu ia keluar dan tidak aktif dari organisasi. Tentunya sangat sayang karena potensinya yang dapat berkembang jadi tidak dapat berkembang. Mending apabila individu tersebut mempunyai prinsip ’kutu loncat’ yang ketika ia kecewa dengan organisasi A, ia akan mencari organisasi B, C, hingga Z hingga ia menemukan dunia-nya yang baginya nyaman. Dapat dianalogikan orang ini seperti orang yang suka gonta-ganti pacar, mencari yang benar-benar ’pas’ baginya. Sehingga ia perlu melakukan aksi jajal-menjajal sedikit-sedikit.

Kemudian yang kedua adalah imbas bagi organisasinya sendiri. Dengan adanya kekecewaan anggota organisasi ini akan menimbulkan minimal dua dampak yang besar. Dampak pertama adalah kekecewaan ini ditindak lanjuti dengan menghilangnya anggota organisasi entah kemana, istilah kerennya turn over. Bayangkan bila sebuah perusahaan yang sebagian besar karyawannya pada turn over semua! Apakah mungkin perusahaan itu dapat melesat maju? Apakah mungkin rencana-rencana perkembangan perusahaan menuju perusahaan yang terkemuka di dunia akan terwujud? Dan penyakit SDM yang satu ini memang sangat pelik dan rumit. Tak pilah-pilih korbannya, perusahaan yang masih kecil hingga perusahaan yang sudah berskala internasional.

Menurut pendapat, perusahaan atau oganisasi yang memiliki penyakit turn over itu masih lebih baik dibandingkan yang memiliki penyakit karyawan atau anggota organisasi yang ogah-ogahan. Inilah dampak kekecewaan yang kedua bagi organisasi. Jadi, sebenarnya anggota organisasi atau karyawan sudah kecewa berat tapi ia tidak keluar dari organisasi atau perusahaan. Ia tetap berada di dalamnya. TAPI SEPERTI ORANG YANG SEDANG KOMA!!! Mati tidak, hidup tak mau. Perilaku nyata anggota organisasi yang terkena wabah penyakit ini antara lain:

1. Tidak peduli dengan perkembangan organisasinya.

2. Sekedar datang rapat tapi tak pernah memberikan inisiatif, ide gagasan bahkan bukannya berbicara sesuai dengan inti rapat malah ngobrol yang jaka sembung, gak nyambung!

3. Sekedar melakukan tugas yang diminta oleh atasan atau pemimpinnya tapi hasilnya gak pernah maksimal, boro-boro maksimal, dikerjain aja udah syukur! Karena sebisa mungkin ia menghindari tugas.

Trus kalo udah begini gimana? Kalo hampir semua anggota organisasi atau karyawan udah mengidap virus TP³ (Tidak Peduli Pangkat Tiga) hingga ia koma begitu saja? Ya udah KE LAUT AJA! Kasian banget deh organisasinye!!! Tapi tenang...segala penyakit organisasi pasti ada obat mujarabnya walaupun mungkin belum ketemu ataupun perlu perawatan intensif yang memakan waktu yang panjang.....panjang...dan lama, itulah Co**-**ki! Lho kog malah iklan?!

Akhir kata, inti dari bahasan organisasi kali ini adalah bahwa kita semua adalah petani organisasi (sebisa mungkin...diusahakan ya...). Karena sesungguhnya organisasi itu hanyalah petak sawah—yang akan subur, gembur hingga menghasilkan beraneka macam bahan pokok karena adanya petani. Agar petak sawah itu maksimal, perlulah petani yang maksimal pula. Yang sabar, tekun, dan optimis untuk terus memberikan yang terbaik untuk sebuah hasil yang terbaik. Itulah komitmen organisasi. Sebuah hadiah terhebat dan terbaik yang sebuah organisasi atau perusahaan terima. Dari individu-individu yang ada di dalamnya. Untuk menghidupinya. Saya pun sedang menjalankan sebuah organisasi dibidang kecantikan.
hehe.

Kamis, 05 November 2009

Thank God It's Friday!


Kalau sudah mendengar kalimat sakti ini, pasti langsung terbayang weekend yang sudah ada di depan mata. Efek bayangan indah ini bisa beragam, tergantung masing-masing orang dan juga mood. Ada yang jadi semangat menjalani hari yang berada di ambang weekend ini, karena iming-iming hari esok yang cerah. Ada juga yang malah jadi tambah males, karena bawaannya udah nggak sabaran pengen santai-santai di keesokan hari. haha .


;;